[Akan ada revisi]
Ini adalah keluhan banyak orang terutama remaja di masa
pergaulannya yang cukup sulit dikendalikan karena emosi kita yang masih belum
stabil atau enggak konsisten. Kita udah berusaha meniggalkan kebiasaan buruk
kita tetapi selalu saja gagal yang bisa dibilang gagal hijrah. Padahal udah berusaha
sekeras mungkin, tapi kenapa gagal?
Kawan, mungkin ada hal yang kamu tinggalkan padahal itu
sangat mendasar dalam melaksanakan hijrah kita. Admin akan memaparkan faktor
apa saja yang membuat hijrah kita.
Oke, mari kita simak faktor-faktor berikut:
- Ketakwaan yang kurang dikembangkan dan diperbaiki
- Teman bergaul yang jauh dari ketakwaan
- Pemicu yang masih ada
- Bermalas-malasan
- Kebiasaan kita yang enggak berubah
- Belum berani melangkah jauh
Itu adalah faktor kenapa para pemuda terutama pelajar selalu
gagal dalam berhijrah menurut pengalaman, pengamatan, dan ilmu yang admin
sendiri dapatkan. Coba kita perhatikan keenam faktor tersebut, masih adakah
dalam kehidupan kamu? Mungkin ada satu atau lebih, tapi tetap saja meskipun
hanya satu atau dua saja yang masih menempel itu akan memicu hijrah kita gagal.
Satu faktor akan menyebabkan faktor lain bermunculan. Dengan demikian, jika
ingin hijrah kita benar-benar berhasil maka usahakan semua faktor diatas harus
dijauhkan sejauh jauh mungkin.
Terus, saya harus mulai darimana?
1. Perbaiki Shalat
Untuk membaca bagian ini kalian bisa langsung membaca rangkumannya atau paparannya. Tapi saran Admin agar tidak ada salah paham lebih baik baca paparannya dengan seksama dimana hal itu juga dapat membantu kepahaman kita.
Penjelasan:
Memperbaiki shalat? kok ini yang pertama? oke, mungkin ada beberapa orang yang bertanya seperti itu dan ada yang berpikir kenapa ga iman kita yang ditingkatin atau ketauhidan kita yang ditingkatin? sebetulnya emang itu hal yang paling mendasar yang harus kita lakukan. Tampa iman dan tauhid yang benar dan baik maka shalat pun takan baik.
Allah Ta'ala berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّيْ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرِقَ؟ فَقَالَ: “إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ
Kita dapat menyimpulkan dari kedua dalil tersebut bahwa shalat yang baik dan benar akan membuat seseorang jauh dari perbuatan keji/maksiat terkecuali orang yang di dalam shalat nya tidak sungguh-sungguh dan buruk.
untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di https://rumaysho.com/3773-benarkah-shalat-dapat-mencegah-dari-perbuatan-keji-dan-mungkar.html
Rangkuman:
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki shalat karena shalat yang baik dan sesuai dengan yang disyari'atkan dapat mencegah maksiat dimana maksiat tersebut dapat merusak hijrah kita. Tapi ada satu hal yang harus diingat, lebih baik pelajari tauhid terlebih dahulu jika didalam kepahaman tentang tauhid masih kurang.
Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu'anhu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-kitab (Al-Quran) dan drikanlah shalat. sesungguhnya shalat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sungguh mengingat Allah (shalat) lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kau kerjakan" [Q.S. Al-Ankabut : 45]
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seorang yang pernah mendatangi nabi shallallahu 'alaihi wasalam, ia mengatakan,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّيْ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرِقَ؟ فَقَالَ: “إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ
"ada seorang yang pernah mendatangi nabi shallallhu 'alaihi wa salam. Ia berkata 'ada seorang yang biasa shalat di malam hari namun pagi hari ia mencuri. Bagaimana seperti itu?' beliau lantas berkata 'shalat tersebut akan mencegah apa yang ia katakan'."[HR. Ahmad 2:447, sanadnya shahih kata Syaikh Syu'aib Al arnauth]
Kita dapat menyimpulkan dari kedua dalil tersebut bahwa shalat yang baik dan benar akan membuat seseorang jauh dari perbuatan keji/maksiat terkecuali orang yang di dalam shalat nya tidak sungguh-sungguh dan buruk.
untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di https://rumaysho.com/3773-benarkah-shalat-dapat-mencegah-dari-perbuatan-keji-dan-mungkar.html
Rangkuman:
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki shalat karena shalat yang baik dan sesuai dengan yang disyari'atkan dapat mencegah maksiat dimana maksiat tersebut dapat merusak hijrah kita. Tapi ada satu hal yang harus diingat, lebih baik pelajari tauhid terlebih dahulu jika didalam kepahaman tentang tauhid masih kurang.
2. Memilih Teman Bergaul
Perhatikan hadits-hadits berikut:Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu'anhu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” [HR. Bukhari, no. 2101]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” [HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih]
Dari kedua hadits tersebut kita dapat simpulkan teman bergaul akan mempengaruhi prilaku seseorang. Tapi ada yang harus kita ingat, dalam kedua hadits tersebut bukan berarti kita pilih-pilih teman tapi kita pilih-pilih teman bergaul. Maksudnya, teman boleh siapa saja asal teman bergaul harus pilih-pilih.
Didalam dunia psikologis pun teman bergaul yang bisa dibilang termasuk kedalam bagian dari lingkungan seseorang sangat mengikat sekali. lingkungan akan menentukan bagaimana pola pikir mereka dan bagaimana mereka menanggapai suatu peristiwa.
Oleh karena itu, pilih lah teman gaul kita yang mendekatkan kita kepada Allah Subhana wa ta'ala bukan yang menjauh kan kita dari-Nya. Jangan segan-segan untuk meninggalkan teman gaul kita yang membuat kita jauh dari-Nya meskipun ada resiko yang harus ditanggung seperti dibenci oleh mereka, merasa kehilangan, dan lain-lain. Tapi percayalah kawan, Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik meskipun tidak di dunia tapi nanti di akhirat.
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” [HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih]
wallahu a'lam bishawaf
3. Mulai Melakukan Ibadah-Ibadah Sunnah Dengan baik
Dengan menambah kuantitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah subhana wa ta'ala maka kita akan lupa dengan kebiasaan maksiat atau buruk kita. Maksiat yang pernah kita lakukan In Syaa Allah tidak akan dilakukan kembali karena kita sibuk dengan Ibadah.
Mari kita mulai dari hal-hal yang kecil seperti buang sampah pada tempatnya, 3s kepada sesama manusia, menggunakan pakaian yang benar, menjaga pandangan, dan lain-lain. Jangan lupa shalat Tahajud dimana didalamnya In Syaa Allah do'a kita cepat dikabulkan. Kembangkan juga shalat rawatib kita. Dan jangan lupa juga tumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik seperti rajin membaca buku terutama Al-Qur'n, membantu orang lain, hidup sehat, baca dzikir pagi dan petang, dan lain-lain.
Dunia psikologis berkata bahwa kegiatan yang terjadi berulang-ulang terjadi karena ada hal yang selalu memicu. Contoh sederhananya kita selalu pergi sekolah karena ada hal yang memicu yaitu kebutuhan dan lingkungan yang menekan kita untuk selalu sekolah. Meskipun hati kita menolak untuk sekolah tapi kita tetap saja melakukannya (Hati dan kelakuan bertolak belakang) karena pemicu itu sudah menjadikan kita sebagai orang yang selalu pergi sekolah.
Kita bisa menghilangkan kebiasaan sekolah. caranya, kita menjauhi yang memicu kita untuk sekolah. Pertama lingkungan dan yang kedua tekanan-tekanan yang membuat kita sekolah. Hal itu bisa hilang dari hidup kita jika kita berpindah ke tampat yang tidak ada kebijakan bahwa sekolah itu wajib dan masyarakat pun banyak yang tidak bersekolah. Mungkin bisa dipahami.
Jadi, jika kita ingin pergi dari kebiasaan maksiat atau buruk kita, kita harus meninggalkan segala sesuatu yang memicu atau memancing kita untuk melakukan hal itu lagi mungkin pemicu itu adalah hp, game, pergaulan, dan lain-lain. Tinggalkan semua hal yang memicu itu, jangan ragu-ragu.
Tapi ada yang harus diperhatikan saat kita meninggalkan sesuatu itu. Perhatikanlah apa yang kita tinggalkan, jangan sampai itu masih bisa diubah menuju kebaikan. Contohnya, kita memiliki laptop dan laptop itu sering digunakan untuk pornografi lalu yang kita lakukan untuk berhijrah adalah membuang laptop tersebut. Memang tindakan itu sedikit ekstrim dan tidak salah. Tapi pikirkan lagi, berapa banyak kebaikan yang bisa kita lakukan dengan laptop tersebut.
Jangan liat barangnya atau sesuatu itu, liat kondisi kapan, dimana, dan bagaimana kita bisa melakukan maksiat tersebut dengan barang itu. Maka yang harus kita hidari adalah kondisinya, bukan laptopnya. Tapi jika kita sudah meniggalkan kondisi tersebut tapi tetap gagal, maka sudahlah, tinggalkan laptopmu, mungkin itu kelemahanmu yang tidak bisa dihindari.
Wallahu a'lam Bishawaf
4. Meninggalkan segala hal yang memicu
Pada umumnya kita selalu diberi nasihat tentang bagaimana cara menjauhi prilaku tercela atau kebiasaan maksiat yang berulang-ulang dilihat dari sisi ruhaniyah. Tapi kadang kala para penasehat lupa melihat dari sisi psikologis.Dunia psikologis berkata bahwa kegiatan yang terjadi berulang-ulang terjadi karena ada hal yang selalu memicu. Contoh sederhananya kita selalu pergi sekolah karena ada hal yang memicu yaitu kebutuhan dan lingkungan yang menekan kita untuk selalu sekolah. Meskipun hati kita menolak untuk sekolah tapi kita tetap saja melakukannya (Hati dan kelakuan bertolak belakang) karena pemicu itu sudah menjadikan kita sebagai orang yang selalu pergi sekolah.
Kita bisa menghilangkan kebiasaan sekolah. caranya, kita menjauhi yang memicu kita untuk sekolah. Pertama lingkungan dan yang kedua tekanan-tekanan yang membuat kita sekolah. Hal itu bisa hilang dari hidup kita jika kita berpindah ke tampat yang tidak ada kebijakan bahwa sekolah itu wajib dan masyarakat pun banyak yang tidak bersekolah. Mungkin bisa dipahami.
Jadi, jika kita ingin pergi dari kebiasaan maksiat atau buruk kita, kita harus meninggalkan segala sesuatu yang memicu atau memancing kita untuk melakukan hal itu lagi mungkin pemicu itu adalah hp, game, pergaulan, dan lain-lain. Tinggalkan semua hal yang memicu itu, jangan ragu-ragu.
Tapi ada yang harus diperhatikan saat kita meninggalkan sesuatu itu. Perhatikanlah apa yang kita tinggalkan, jangan sampai itu masih bisa diubah menuju kebaikan. Contohnya, kita memiliki laptop dan laptop itu sering digunakan untuk pornografi lalu yang kita lakukan untuk berhijrah adalah membuang laptop tersebut. Memang tindakan itu sedikit ekstrim dan tidak salah. Tapi pikirkan lagi, berapa banyak kebaikan yang bisa kita lakukan dengan laptop tersebut.
Jangan liat barangnya atau sesuatu itu, liat kondisi kapan, dimana, dan bagaimana kita bisa melakukan maksiat tersebut dengan barang itu. Maka yang harus kita hidari adalah kondisinya, bukan laptopnya. Tapi jika kita sudah meniggalkan kondisi tersebut tapi tetap gagal, maka sudahlah, tinggalkan laptopmu, mungkin itu kelemahanmu yang tidak bisa dihindari.
Wallahu a'lam Bishawaf
5. Berdo'a
Berdo'a adalah hal yang paling penting. Allah Ta'ala berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Tuhan mu Berfirman: 'Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina'" [Q.S. Ghafir/40: 60]
Semoga tulisan saya bisa bermanfaat. Jika ada yang tidak berkenan atau ingin ditambahkan tolong beritau saya secepatnya. Jangan biarkan saya terlalu dalam menuju jalan yang salah. Terimakasih.
Semoga tulisan saya bisa bermanfaat. Jika ada yang tidak berkenan atau ingin ditambahkan tolong beritau saya secepatnya. Jangan biarkan saya terlalu dalam menuju jalan yang salah. Terimakasih.

Komentar
Posting Komentar